22 June 2013

Pandangan Islam tentang Imunisasi

1. Jenis-Jenis Vaksin Di antara jenis vaksin adalah: hepatitis (untuk mengusahakan kekebalan hati terhindar dari penyakit), polio (untuk mengusahakan atropi otot sehingga kebal dari penyakit dan jika kebal manfaatnya antara lain bentuk kaki lurus atau normal tidak seperti huruf O atau huruf X, dan kelumpuhan), rubella (supaya kebal dari serangan campak), BCG [Bacillus Calmitte Guerine] untuk mencegah serangan TBC [Tuber Culocis], DPT [Dipteri Portucis Tetanus] mencegah timbulnya penyakit gomen atau sariawan dan batuk rejan serta tetanus, MMR [Measless Mumps Rubella]. Di Indonesia, praktik vaksinasi-imunisasi terhadap balita [bayi di bawah umur lima tahun] antara lain: hepatitis B, BCG, polio, MMR, IPV, dan DPT. Vaksinasi-imunisasi bahkan telah deprogramkan secara internasional oleh WHO [World Health Organization]. Bahan-Bahan Vaksin Disebutkan bahwa materi yang digunakan sebagai bahan vaksin ada dua macam, (1) bahan alami, antara lain: enzim yang berasal dari babi, seline janin bayi, organ bagian tubuh seperti: paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, thyroid, thymus, dan hati yang diperoleh dari aborsi janin. Vaksin polio terbuat dari babi; atau campuran dari ginjal kera, sel kanker manusia, dan cairan tubuh hewan tertentu antara lain serum dari sapi atau nanah dari cacar sapi, bayi kuda atau darah kuda dan babi, dan ekstrak mentah lambung babi, jaringan ginjal anjing, sel ginjal kera, embrio ayam, dan jaringan otak kelinci. (2) Bahan yang berasal dari unsur kimia antara lain: merkuri, formaldehid, aluminium, fosfat, sodium, neomioin, fenol, dan aseton. Efek Vaksinasi Efek pemberian vaksinasi terhadap balita [bayi umur lima tahun ke bawah, selanjutnya cukup disebut balita] berdasar laporan-laporan resmi secara garis besar ada dua macam: Berbahaya. Conggres Amerika Serikat (AS) membentuk “The National Chilhoodvaccib injury act” berkesimpulan vaksinasi menyebabkan luka dan kematian. Dr. Wiliam Hay berkomentar, “tidak masuk akal memikirkan bahwa anda menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatannya. WHO [World Health Organization], yaitu organisasi kesehatan dunia menemukan bahwa anak yang divaksinasi campak memiliki peluang 15 kali lebih besar unuk diserang campak. Banyak penelitian medis mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, gabag, polio, gondong juga terjadi di pemukiman penduduk yang diimunisasi bermanfaat. Disimpulkan bahwa imunisasi merupakan sebab utama penurunan jumlah penyakit. Dicatat oleh ‘The Brithis Association for the Advancement of Science” menemukan bahwa di Amerika Serikat dan Enggris mengalami penurunan penyakit sebanyak 80 % hingga 90 %. Umumnya di Indonesia seperti kita alami, dulu ketika masih kecil yang bekas-bekasnya masih jelas hingga sekarang, benar adanya menjadikan ada imunitas dalam tubuh kita. Jadi secara real (nyata), imunisasi ada menfaatnya bagi kesehatan. Disebutkan pula bahwa secara umum vaksinasi-imunisasi cukup aman karena keuntungan perlindungan jauh lebih besar dari pada efek samping yang mungkin ditimbulkan. Memang, kegagalan vaksinasi-imunisasi terjadi pada saat rintisan teknologi itu. Dengan demikian laporan WHO [World Health Organization] tentang efek buruk vaksinasi-imunisasi itu benar adanya. Akan tetapi, penelitian, penyempurnaan di bidang kesehatan terus dilakukan sehingga efek buruk dari vaksinasi-imunisasi itu dapat dikuramngi bahkan sekuat tenaga dinetralisir. Sehingga, perkembangan selanjutnya terdapat penyempurnaan di berbagai unsur. Perkembangan selanjutnya, formula vaksinasi-imunisasai lebih bagus, lebih halus, dan lebih aman, sehingga ada manfaatnya bagi usaha meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia, termasuk balita bagi vaksinasi-imunisasi mereka seperti: MMR , DPT, BCG, IPV, dan polio. Pandangan Islam Tentang Vaksinasi-Imunisasi a. Wasiat Rasulullah Sebelum Rasulullah wafat, tepatnya ketika beliau khutbah pada haji wada’, haji terakhir beliau atau dikenal sebagai haji perpisahan beliau dengan umat Islam, sempat berwasiat yang Artinya: Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selamanya selagi berpegang teguh keduanya, yaitu kitabullah (Alquran) dan Sunnah Rasulnya Oleh karena masalah vaksinasi-imunisasi belum terjadi pada masa Rasulullah, maka belum ada petunjuk sedikitpun tentang imunisasi. Terhadap masalah yang bersifat kontemporer menjadi lapangan dan lahan bagi para ulama untuk melakukan ijtihad menemukan solusi hukum perkara tersebut haram atau halal, baik atau buruk, bermanfaat atau berbahaya bagi kesehatan. Para ulama dalam berijtihad untuk menetapkan hukum terhadap masalah-masalah kontemporer pasti tidak pernah menghasilkan keputusan ijma’yyah ‘amiyyah (kesepakatan umum), melainkan khlafiyyah (perbedaan pendapat diantara mereka). Bentuk khilafiyyah yang paling ekstrim adalah halal atau haram. Tidak terkecuali mengenai vaksinasi-imunisasi. Dalam Ilmu Fikih memang terdapat adagium “Man laa ya’lamu khilaafiyyatan laa ya’lamu raaihatal fiqhi” (Barang siapa tidak mengenal perbedaan pendapat, sesungguhnya ia tidak mengenal baunya Fikih”). Baunya saja tidak mengetahui, apalagi ilmu fikihnya itu sendiri. b. Pro Versus Kontra: Haram versus Halal Tentang Vaksinasi-Imunisasi 1). Haram Para ulama, pemikir, mujtahid ada yang menghukumi haram terhadap tindakan vaksinasi-imunisasi. Argumen yang diajukan antara lain memasukkan barang najis dan racun ke dalam tubuh manusia. Manusia iu merupakan khaifatullah fi al-ard} dan asyraf al-makhlu>qa>t (maskhluk yang paling mulia) dan memiliki kemampuan alami melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya.Berbeda dengan orang kafir yang berpendirian manusia sebagai makluk lemah sehingga perlu vaksinasi untuk meningkatkatkan imunitas pada manusia. Para filosof Barat dari aliran Eksistensialisme kiri, seperti Jean Paul Sartre menyatakan bahwa manusia hanyalah sampah yang terbuang dan tak berarti. Ia berkata: My original fall is the existence of the Other. I grasp the Other’s look ad the very center of my act as the solidificatiom and alineatiom of my own possibilities (Asal mula kejatuhanku karena keberadaan orang lain. Aku mengerti tatapan orang lain tertuju benar-benar kepada setiap tindakanku sebagai sesuatu yang padat dan mengasingkan kemungkinan-kemungkinanku yang aku punyai; Jen Paul Sartre: 1948: 263). Yang ia maksud dengan istilah ‘kejatuhan’ adalah ketidakmaknaan keberadaannya. Jadi manusia tak ubahnya bagaikan sampah. Ia menambahkan bahwa kejatuhannya itu adalah permanen. . . . “is the permanent structure of my being for the Other” (ibid). Hanya karena manusia diperhatikan orang lain dimaknai dimakan orang lain hingga kepribadiannya hancur tak bermakna. Dari sinilah ia juga mengatakan manusia sebagai homo homini lopus (manusia adalah binatang yang saling memangsa). Paham ini kemudian masuk ke Indonesia antara lain melalui sajak Chairil Anwar tentang ‘Aku’. Dalam sajak ini disebutkan bahwa manusia hanyalah binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Lebih dari itu, pendapat manusia sebagai binatang telah berakar sejak zaman filsafat Yunani purba.Aristoteles menyatakan bahwa manusia hanyalah binatang yang berpikir. Esensi pendapat ini adalah menyatakan bahwa manusia hanyalah binatang. Jadi tidak bermasalah sama sekali jika di dalam tubuhnya dimasukkan sesuatu yang menurut syariat adalah benda-benda najis karena ‘manusia’-nya sendiri adalah sesuatu yang identik dengan ‘najis’. Solusi yang diajukan untuk meningkatkan kekebalan balita adalah menghindari tindakan vaksinasi-imunisasi pada balita maupun manusia pada umumnya, selanjutnya menerapkan syariat tahnik kepada balita, yaitu memasukkan kurma yang telah dikunyah lembut atau madu ke dalam rongga mulut si bayi ketika melaksanakan uapaca ‘aqiqah pada hari ke tujuh dari kelahiran anak. Tahnik dipandang sebagai vaksinasi-imunisasi. Perlu ditambahkan bahwa pada zaman Nabi tidak ada anak yang divaksinasi dan kenyataannya juga sehat-sehat dan banyak yang berumur panjang. Artinya umur harapan hidup rata-rata sejak zaman Rasulullah dan zaman sekarang kurang lebih sama. Segera diingatkan di sini bahwa, jika seseorang melakukan tahniq terhadap balita, terutama ayahnya, jangan mengikuti praktik Nabi, yaitu mengunyah kurma, setelah lembut kemudian dimasukkan ke mulut anak. Praktik Nabi ini harus dipandang kasus ekstrim atau istimewa. Ada sesuatu yang berada di luar nalar. Sebut saja karamah beliau. Abu Hurairah diludahi mulutnya oleh Rasulullah, bukan ludah kebencian, menyebabkan Abu Hurairah sangat fasih dan merupakan sahabat yang paling banyak menghafal hadis (al-muktsiru>na fil h}adis; Abd al-Baqi, 2007:902), padahal sahabat ini hanya bersama dengan belaiau kurang lebih dua tahun setengah masa akhir-akhir hidup Rasul. Sahabat ini memang masuk Islam belakangan, setelah Futuh} Makah, pelaklukan kota Makah oleh Rasulullah beserta pasukannya dari Madinah. (Iwan Gayo,2008: 61). Jika seseorang melakukan tahnik persis seperti praktik Rasulullah, dikhawatirkan sekali banyak mengandung virus pada air liur pengunyah kurma. Sementara itu, si bayi yang baru berumur tujuh hari belum memiliki sistem kekebalan yang sempurna. Untuk itu, dalam melakukan tahniq hendaklah menggunakan madu berkualitas bagus atau sari kurma. Sekarang telah banyak tersedia di toko-toko obat, apotik, bahkan took-toko swalayan seperti mall yang menyediakan sari kurma berbentuk cairan. Kedua bahan ini lebih hygine dan insya Allah steril dari kuman, bakteri, jamur, maupun virus yang membahayakan bagi kesehatan bayi karena diproses menurut teknologi modern dan sehat. Mengapa Rasulullah menggunakan kurma untuk men-tahniq bayi, ternyata kandungan mineral yang dibutuhkan bagi perkembangan tubuh dan kesehatan bayi amat banyak. (1). Kandungan dan Manfaat Kurma Kurma mengandung banyak hal bagi kebutuhan tubuh manusia, antara lain: (a) Karbohidrat Kandungan karbohidrat sederhana (glukosa dan fruktosa) yang tinggi merupakan andalan utama dari kurma. Keduanya berkalori tinggi, dan mudah dicerna. Selain itu, kandungan gulanya dapat menenangkan saraf yang gelisah serta memberikan rasa aman pada kejiwaan.Kandungan karbohidrat dalam kurma sebesar 50 – 70 persen. Gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam tempo 45-60 menit. Hal ini menyebabkan orang yang makan kurma cukup banyak pada waktu sahur akan menjadi segar dan tahan lapar, sebab bahan pangan ini juga kaya akan serat. (b) Protein Kandungan protein didalam kurma sebesar 1.8 – 2.0 persen, yang memberikan manfaat besar kepada otak. Protein-protein ini melindungi tubuh dari serangan penyakit dan infeksi, menunjang sel-sel tubuh memperbaharui diri, dan menyeimbangkan cairan-cairan tubuh. (c) Lemak (d) Mineral Kurma mengandung banyak mineral yang esensial bagi tubuh: seperti potassium, sodium, kalsium, besi, mangan, dan tembaga. Bila potassium dan sodium bekerja bersamaan, mereka bertindak selaku pengatur ritme detak jantung. Dengan menfasillitasi pengalihan oksigen ke otak, potassium dapat memberdayakan pikiran jernih. Selain itu, kurma juga menyediakan kandungan alkali secukupnya pada cairan tubuh, merangsang ginjal mengeluarkan sampah-sampah racun metabolis, membantu menurunkan tekanan darah tinggi, dan menunjang pembentukan kulit sehat. Kandungan kalsiun dalam kurma berguna bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Sedangkan kadar besi yang dikandung buah kurma matang sangat mencukupi dan penting sekali dalam proses pembentukan air susu ibu. Kadar zat besi yang ada dapat menggantikan tenaga ibu yang terkuras saat melahirkan atau menyusui. Zat besi dan Kalsium merpuakan dua unsur efektif dan penting bagi pertumbuhan bayi. Alasannya, dua unsur ini merupakan unsur yang paling berpengaruh dalam pembentukan darah dan tulang sumsum. zat garam mineral dapat menetralisasi asam, seperti Kalsium dan Potasium. Buah kurma adalah makanan terbaik untuk menetralisasi zat asam yang ada pada perut karena meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengkonsumsi protein seperti ikan dan telur. (e) Vitamin Dalam buah kurma terkandung berbagai macam vitamin, diantaranya adalah vitamin A, B1, B2 dan vitamin C. Kandungan vitamin A meningkatkan kemampuan pandangan mata dan kekuatan badan, juga kekuatan tulang dan gigi. Selain itu juga dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit serta menenangkan sel-sel saraf. Vitamin B1 memfasilitasi jaringan saraf berfungsi sehat sempurna, menunjang tubuh mengubah karbohidrat menjadi energi, mengatur selera makan dan pencernaan, serta memberdayakan metabolisme berasal dari protein dan lemak. Vitamin B2 memfasilitasi pembakaran protein-protein yang disebutkan tadi, karbohidrat, dan lemak yang diperlukan untuk penyedian energi dan pembaharuan sel (f) Zat gizi Kurma juga mengandung banyak zat gizi. (g) Serat Serat yang terdapat dalam kurma berfungsi melunakkan usus dan mengaktifkannya, yang secara alami bisa mempermudah buang air besar. Dalam kurma juga terkandung semacam hormon (potuchsin) yang bisa menciutkan pembuluh darah dalam rahim; sehingga dengan demikian bisa mencegah terjadinya pendarahan rahim. Begitu banyak kandungan kurma bagi kebutuhan tubuh, bahkan jiwa manusia, maka manfaatnya juga amat banyak. Buah kurma adalah makanan yang sangat baik diandalkan sejak zaman para nabi, didalam al-Qur’an kurma disebut sebanyak 24 kali antara lain dalam surat Maryam ayat 25-26 yaitu ketika Maryam akan melahirkan putranya Nabiyullah Isa ‘Alaihi Salam. Allah memerintahkan beliau untuk menggoyangkan pohon kurma yang menjadi sandarannya kemudian beliau diperintahkan makan buah kurma yang jatuh didekatnya, maka sejak saat itu buah kurma merupakan makanan terbaik dan obat yang sangat mujarab bagi ibu hamil dan pasca melahirkan dari zaman kezaman ila yaumil akhir. Berikut ini dipaparkan sebagian dari manfaat dan khasiat kurma ditinjau dari sudut pandang medis modern yang sekaligus menguatkan khabar Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shahihah tentang khasiat dan keutamaan kurma. 2). Halal Pada prinsipnya vaksinasi-imunisasi adalah boleh alias halal karena; (1) vaksinasi-imunisasi sangat dibutuhkan sebagaimana penelitian-penelitian di bidang ilmu kedokteran, (2) belum ditemukan bahan lainnya yang mubah, (3) termasuk dalam keadaan darurat,(4) sesuai dengan prinsip kemudahan syariat di saat ada kesempitan atau kesulitan. Ayat tersebut menjelaskan prinsip kemudahan dalam pelaksanaan syariat Islam Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS al-Baqarah/2 : 172). Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa memakan yang mestinya haram seperti memakan daging babi yang telah dimasak menjadi halal ketika memang tidak ada makanan selain itu, selagi ia memakannya secukupnya, yaitu untuk menyambung hidup, bukan dalam arti memakan daging babi dalam berbagai olahan kuliner sehingga mendatangkan aneka macam aroma, rasa, dan citarasa untuk berpestaria dalam hal makan-memakan. Harap diingat bahwa ada saja seorang muslim yang tampaknya hidup di perkotaan, tinggal di asrama mewah tetapi ia dalam keadaan darurat terus menerus, yaitu makanan harian selalu mengandung unsur babi dan alkohol sarana mabuk. Dia itu seperti seorang muslim studi di luar negeri di negara sekuler yang jauh dari suasana Islam. Dalam keadaan demikian, ia boleh saja makan harian sebagaimana mereka dari penduduk asli non muslim makan. Setelah ia selesai studi dan pulang ke kampung halaman, keadaan menjadi normal, ia harus kembali hanya makan yang halal. Dengan demikian, secara analogis vaksinasi-imunisasi yang bahan-bahan alaminya najis boleh dilakukan terhadap keluarga muslim lantaran belum ada faksin yang sepenuhnya dari benda-benda halal dan suci, dari najis. Berkenaan dengan benda najis ini, perlu disampaikan pula di sini tentang vaksinasi-imunisasi meningitis bagi para calon jamaah haji. Pemerintah Arab Saudi hanya memperbolehkan jamaah haji asal non Arabia jika telah memiliki sertifikasi vaksinasi-imunisasi meningitis. Sementara itu, vaksin ini mengandung unsur babi. Untuk jamaah dari Indonesia, vaksin yang harus disuntikkan ke dalam tubuh calon jamaah haji adalah jenis meningitis tetravalent atau quadrivalernt karena berasal dari bakteri N yang lazim disebut ACWY dan diproduksi oleh Glaxo Smith Kline, Belgia. Sebenarnya, dalam formula akhir, barang jadi siap pakai, vaksin meningitis ini telah steril dari enzim babi. Enzim babi ini hanya digunakan dalam proses pembuatan formula vaksin (Majlis Tarjih Jateng, 2010 : 6). Namun demikian tetap ada yang keberatan menggunakannya, lebih baik tidak ibadah haji dari pada memasukkan benda najis mughalad}ah ke dalam tubuh yang tidak bisa disucikan secara syariat. Jika pendirian ini menjadi kebijakan resmi kaum muslimin tentu tida ada orang Islam melakukan ibadah haji yang berasal dari non Arab. Oleh karena itu, agar setiap orang Islam dapat melakukan ibadah haji, asal mampu, maka keharusan menggunakan vaksin meningitis sebagaimana disyaratkan oleh pemerintah Saudi Arabia harus kita terima sebagai seseuatu yang darurat. Selanjutnya prinsip keadaan darurat diberlakukan, bahwa setiap keadaan darurat diperbolehkan yang semula dilarang Vaksin meningitis ini memang amat membahayakan bagi keselamatan jiwa manusia. Pada tahun 2001 WHO [World Health Organization] mencatat terdapat 1,2 juta kasus terinveksi virus N ACWY, 135.000 diantaranya meninggal dunia. Di Nigeria, dari 4164 kasus dalam satu minggu meninggal 171 jiwa (Majlis Tarjih Muhammadiyah Jateng, 2010 : 3). Virus ini bisa menjadi epidemi. Jadi amat membahayakan bagi keselamatan jiwa, khususnya kurang lebih 5 juta, jamaah haji dari berbagai penjuru di dunia. Jika dalam waktu singkat terjadi wabah di Arab Saudi pada pelaksanaan haji, kemudian mereka terjangkit virus ini, selanjutnya mereka pulang ke negara masing-masing sambil membawa virus maut ini, tentu dalam waktu singkat dunia akan terjangkit epidemi. Orang akan begitu mudah mengutuk Islam dan orang Islam, bahwa ibadah haji dan umat Islam adalah pembabawa petaka dunia. Maka kemungkinan ini harus dicegah dengan cara kita tetap menggunakan vaksin meningitis ini selama belum ada produk alternatif yang halal. Read More..

26 February 2012

HATI-HATI TERHADAP BULU SIKAT GIGI YANG LEMBUT

Sikat gigi merupakan keperluan dasar dalam memenuhi kesehatan gigi. Berbagai macam variasi sikat gigi, dari yang harganya murah dengan model sederhana sampai yang harganya mahal dengan model yang lebih inovasi ditawarkan oleh industry untuk memenuhi kebutuhan kesehatan gigi masyarakat. Bagi sebagian besar orang, harga sikat gigi bukan menjadi suatu patokan seseorang dalam memilih sikat gigi bagus, tetapi kemampuan sikat gigi tersebut dalam merefleksikan perawatan gigi seseorang lah yang menjadi patokan. Faktor kehalalan juga menjadi patokan umat muslim dalam memilih sikat gigi, Karena disinyalir ada sikat gigi yang tidak halal. Sejarah sikat gigi Pada masa peradaban Mesir, masyarakat di sana menggunakan stik kunyah atau kayu siwak untuk membersihkan gigi mereka. Siwak yg dlm bahasa Yunani bernama Salvadora persica ini diyakini memiliki kemampuan antiseptic tinggi.Dengan menggigit-gigit ujung kayu siwak, lama-kelamaan akan membentuk sikat. Penggunaan siwak sebagai sikat gigi terus berlanjut ke peradaban Arab-Islam ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat. Sikat gigi pertama yang dilengakapi dengan bulu ditemukan oleh orang Cina sekitar abad ke-15. Sikat gigi ini dibuat dari bulu yang diambil dari leher binatang babi yang ditempelkan pada tulang atau bambu. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan bulu leher babi pun diganti dengan bulu kuda yang lebih lembut dan disukai oleh orang Eropa. William Addis, seorang berkebangsaan Inggris, pada tahun 1870 membuat sikat gigi dari gagang tulang sapi. Bulunya memang tetap terbuat dari bulu babi yang disusun satu baris sampai tiga baris. Masyarakat Eropa juga menggunakan kain linens atau spons yang dibasahi minyak sulfur atau larutan garam untuk menyikat gigi. Terkadang, kain ini dipasangkan pada satu stik untuk membantu mencapai gigi belakang. Namun sikat gigi ini tidak terlalu popular dibanding sikat gigi hasil penemuan Addis. Setelah dunia teknologi berkembang pesat, stik sikat gigi dibuat dari plastic karena menjadi pilihan terbaik untuk menyikat gigi. Namun, pada tahun 1990-an penggunaan bulu hewan tetap dilakukan. Lalu muncullah Wallace H. Carohers yang menciptakan bulu sikat dari nilon di Lab. Du Pont. Inilah jenis sikat gigi yang dipakai hingga saat ini. Nilon dipilih untuk menggantikan bulu babi karena bentuknya mudah diatur dan ukuran diameter untuk menghasilkan penyikatan lebih baik. Konon, nilon ini memiliki kekurangan dibanding bulu babi. Sifat nilon lebih sulit kering sehingga mudah ditumbuhi bakteri. Walaupun sebagian besar sikat gigi sudah berbahan nilon, ada sekitar 10% sikat gigi dari bulu babi hutan yang dipasarkan di seluruh dunia. Untuk di Indonesia sikat gigi dari bulu babi memang sangat jarang ditemukan dan digunakan, namun negara-negara di Eropa masih menggunakan sikat gigi bulu babi karena dianggap sebagagai sikat gigi mewah dan harganya sangat mahal. Menurut beberapa sumber, negara-negara di Eropa percaya bahwa sikat gigi bulu babi adalah sikat gigi terbaik karena lembut dan tidak merusak gigi. Menurut informasi, ciri-ciri sikat gigi ini adalah texturnya sangat lembut dan jika terbakar akan tercium bau menyengat seperti tanduk yang terbakar. Mungkin ini berkaitan dengan adanya kandungan protein dalam rambut. Ciri lainnya, pada gagang sikat ini ada tulisan Bristle, Pure Bristle, 100% China Bristle, dll. Jika diartikan, Bristle berarti bulu babi. Penggunaan bulu babi juga dapat ditemui di kuas roti maupun kuas kosmetik. Menurut MUI, tentu saja sikat gigi ini jelas haram. Walaupun yang dipakai hanya bulunya saja, tetaplah haram. Karena para ulama menyatakan bahwa babi dan turunannya adalah haram untuk setiap umat muslim. Pendapat yang menyatakan sikat gigi dari bulu babi lebih baik dari sikat gigi apapun adalah SALAH. Mengapa demikian? Jika sikat gigi ini digunakan akan lebih berbahaya karena bulu babi mengandung protein. Apabila hewan yg bulunya digunakan untuk sikat gigi berpenyakit, maka akan menjadi petaka jika bulunya tertinggal di gigi kita. Selain itu, dalam menyikat gigi tidak dibutuhkan bulu yang terlalu halus.. Read More..

17 August 2010

Mengenal Mu



Aku mengenal mu lewat jiwa,
bukan lewat mata,
Aku menjadikan mu Pendamping lewat hati,
Bukan sekedar basa basi.

Ku tak tahu,
Seperti apa aku dalam pandangan mu,
Selayak apa aku dalam pelukan mu,
Tapi yang aku tahu...
Meski dengan keterbasan ku berbalut kekurangan ku,
Aku menulis nama mu di hati ku..
Sejak awal dan takkan pernah terganti apalagi terhapus..

Ong Kyu Read More..

25 December 2009

Puasa ‘Asyura

Asyura berasal dari perkataan Arab asyara yang bermaksud sepuluh. Ini disebabkan hari Asyura adalah hari yang kesepuluh di dalam kalendar Islam yaitu pada 10 Muharram.

Sejarah Asyura

Menurut tradisi masyarakat Islam, Nabi Muhammad s.a.w. melakukan puasa Asyura sejak di Makkah lagi memandangkan puasa Asyura merupakan amalan biasa masyarakat setempat. Apabila baginda berhijrah ke Madinah, baginda turut mendapati kaum Yahudi turut berpuasa pada hari Asyura (atau bagi mereka adalah Yom Kippur yang juga pada hari kesepuluh). Ketika itu, baginda mengesahkan dan mensyariatkan puasa sehingga ia menjadi satu kewajiban kerana baginda merasakan masyarakat Islam lebih dekat dengan Nabi Musa. Ibn Hajar al-asqalani, dalam pernyataannya terhadap Sahih Bukhari mengatakan yang syariat puasa telah dijadikan kepada bulan Ramadhan setahun kemudian. Kini, masyarakat Islam melakukan puasa pada 10 Muharram sebagai amalan sunat dan bukan kewajiban.

Masyarakat Islam turut percaya akan berlakunya kejadian besar ketika 10 Muharram:

* Hari pertama Allah menciptakan alam.
* Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
* Hari pertama Allah menurunkan hujan.
* Allah menjadikan 'Arasy.
* Allah menjadikan Luh Mahfuz.
* Allah menjadikan Malaikat Jibril.
* Nabi Adam a.s. dicipta.
* Diampunkan dosa Nabi Adam a.s. setelah bertahun-tahun memohon keampunan kerana melanggar larangan Allah.
* Nabi Idris a.s. diangkat darjatnya oleh Allah dan Malaikat Izrail membawanya ke langit.
* Diselamatkan Nabi Nuh a.s. dan pengikutnya dari banjir besar selama enam bulan dan bahtera baginda selamat berlabuh di puncak pergunungan.
* Nabi Ibrahim a.s. dilahirkan di kawasan pedalaman dan terselamat dari buruan Raja Namrud.
* Nabi Ibrahim a.s. diselamatkan Allah dari api Raja Namrud.
* Nabi Yusuf a.s. dibebaskan dari penjara setelah meringkuk di dalamnya selama tujuh tahun.
* Nabi Yaakub a.s. telah sembuh buta matanya ketika kepulangan anaknya Yusuf di hari tersebut.
* Nabi Ayub a.s. disembuhkan dari penyakitnya.
* Nabi Musa a.s. telah diselamatkan daripada tentera Firaun dan berlakunya kejadian terbelahnya Laut Merah.
* Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s..
* Nabi Yunus a.s. selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
* Kesalahan Nabi Daud a.s. diampuni Allah.
* Nabi Sulaiman a.s. dikurniakan Allah kerajaan yang besar.
* Nabi Isa a.s. diangkat ke syurga ketika diburu oleh tentera Rom untuk menyalib baginda.
* Saidina Hussein ibni Ali telah syahid akibat dibunuh dengan kejam di Karbala oleh tentera khalifah Bani Umaiyyah iaitu Khalifah Yazid.



Sejarah Asyura bagi Perspektif Syiah

Pada masa zaman sebelum Islam, 'Asyura diperingati sebagai hari raya rasmi bangsa Arab. Pada masa itu mereka berpuasa dan bersyukur menyambut 'Asyura. Mereka merayakan hari itu dengan penuh kegembiraan sebagaimana hari Nawruz yang dijadikan hari raya di negara Iran. Dalam sejarah Arab, hari 'Asyura (10 Muharram) adalah hari raya bersejarah. Pada hari itu setiap suku mengadakan perayaan dengan mengenakan pakaian baru dan menghias kota-kota mereka. Sekelompok bangsa Arab, yang dikenal sebagai kelompok Yazidi, merayakan hari raya tersebut sebagai hari kegembiraan.

Syahidnya Husain bin Ali

Pertempuran Karbala

Tanggal 10 Muharram 61 H atau tanggal 10 Oktober 680 merupakan hari pertempuran Karbala yang terjadi di Karbala, Iraq sekarang. Pertempuran ini terjadi antara pasukan Bani Hasyim yang dipimpin oleh Husain bin Ali beranggotakan sekitar 70-an orang melawan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Ibnu Ziyad, atas perintah Yazid bin Muawiyah, khalifah Umayyah saat itu. Pada hari itu hampir semua pasukan Husain bin Ali, termasuk Husain-nya sendiri syahid terbunuh, kecuali pihak perempuan, serta anak Husain yang sakit bernama Ali bin Husain. Kemudian oleh Ibnu Ziyad mereka dibawa menghadap Khalifah di Damaskus, dan kemudian yang selamat dikembalikan ke Madinah.

Peringatan kesyahidan Husain

Perkara sunat dilakukan pada hari Asyura

1. Melapangkan masa / belanja anak dan isteri
2. Memuliakan fakir miskin
3. Menahan marah
4. Menunjukkan jalan yang lurus/membetuli orang sesat/orang yang salah(terpesong aqidah(tauhid) dan akhlaknya)
5. Menyapu / mengusap kepala anak yatim(menghormati dan memuliakan mereka)
6. Bersedekah
7. Memelihara kehormatan diri
8. Mandi Sunat dengan lafaz niatnya: "Sahaja aku mandi sunat hari Asyura kerana Allah Taala."
9. Bercelak
10. Membaca Qulhuwallah(Surah Al-Ikhlas) hingga akhir seribu kali
11. Sembahyang sunat empat rakaat dengan lafaz niat: "Sahaja aku sembahyang sunat hari Asyura empat rakaat kerana Allah Taala. Pada rakaat pertama dan
kedua selepas al-Fatihah di baca Qulhuwallah sebelas kali.
12. Menjamu orang berbuka puasa
13. Puasa Sunat Asyura dengan niatnya dibaca Sahaja aku berpuasa esok hari sunat hari Asyura kerana Allah Taala.
Read More..

15 September 2009

Hikmah Puasa Ramadhan

“Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagian negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari keni’matan dunia.”



Hikmah yg diperoleh dari ajaran berpuasa Ramadhan nilai kesalehan selalu berada pada jaringan sosial masyarakat dilandasi oleh kualitas iman dan taqwa. Sehingga dalam kalbu kita tumbuh pribadi yg kuat senantiasa ikhlas beramal dan bukan pribadi yg selalu menjadi beban orang lain.
Islam tidak boleh membiarkan umatnya hidup serba kekurangan melainkan dijadikan manusia itu menjadi mahluk yg hidup dalam keseimbangan antara keperluan duniawiyah dan ukhrawiyah. Karena itu hikmah puasa Ramadan secara kondusif melahirkan dua dimensi keberkahan kehidupan dunia dan akhirat.
Secara fisik dengan berpuasa seseorang harus mampu mengendalikan nafsu, sekularitas, hedonistis, egoistis maupun sikap hidup kompetitif konsumtif agar hidup ini senantiasa dihayati sebagai rahmat dan nikmat dari Allah SWT. Mereka harus menahan rasa lapar dan haus tidak melakukan hubungan badan dgn istri dari waktu fajar hingga matahari tenggelam di petang hari serta tidak melakukan perbuatan jahat tidak mengeluarkan kata-kata kotor menahan emosi dan nafsu amarah serta berbagai perbuatan tercela lainnya.
Secara psikologis seseorang yg berpuasa Ramadan menyatukan dirinya dalam kondisi penderitaan akibat rasa lapar dan haus yg selama itu lebih banyak diderita oleh fakir miskin yg dalam hidupnya selalu terbelenggu oleh kemiskinan. Esensi puasa Ramadhan juga memberikan nilai ajaran agar orang yg beriman dan bertaqwa mengikuti tuntunan Nabi SAW yg hidupnya amat sederhana dan selalu bersikap lugu dalam segala aspek kehidupannya. Beliau menganjurkan kepada umat Islam “berhentilah kamu makan sebelum kenyang.” Contoh sederhana tsb mudah didengar tapi terasa berat dilaksanakan jika seseorang tengah bersantap dengan makanan lezat. Memang itulah tuntunan yg memiliki bobot kesadaran diri tinggi terhadap lingkungan masyarakat miskin yg berada di lingkungannya.
Di bagian lain Nabi saw mencontohkan “berbuka puasalah kamu dgn tiga butir kurma dan seteguk air minum setelah itu bersegeralah salat magrib.” Kaitannya dengan itu Nabi SAW menganjurkan agar selalu gemar memberi makan untuk tetangga yg miskin. Fenomena kesadaran fitrah di atas, dalam puasa Ramadhan saat ini diharapkan mampu membentuk rasa keterikatan jiwa dan moral utk memihak kepada kaum dhuafa fakir miskin. Pendekatan ini harus diartikulasikan pada pola pikir dan pola tindak ke dalam bingkai amal saleh mampu melebur ke dalam pola kehidupan kaum mustadh’afin.
Seperti dicontohkan Nabi SAW saat membebaskan budak masyarakat kecil dan golongan lemah yg tertindas dgn membangkitkan ‘harga diri’ dan nilai kemanusiaan. Nabi SAW bisa hidup di tengah mereka dalam kondisi sama-sama lapar tidur di atas pelepah daun kurma. Begitu dekatnya Nabi SAW dengan orang-orang miskin sampai-sampai beliau mendapat julukan Abul Masakin.
Ketika ada seorang sahabat bertanya terhadap keberadaan dirinya beliau menjawab “carilah aku di tengah orang-orang yg lemah di antara kalian.” Isyarat yg diberikan Nabi Saw ini menggugah seorang pemikir Islam dari Turki Hilmi H. Isyik mengatakan “Orang yg bersikap masa bodoh terahdap orang-orang miskin di sekitarnya tidak mungkin ia menjadi seorang muslim yg baik.” Pengertian di atas mengambil esensi dari Sabda Nabi SAW yg maksudnya tiap orang muslim jangan mengabaikan dasar pokok iman ibadah dan akhlak. Kalau hal itu terabaikan amal atau muamalat duniawi akan menyimpang tidak terkontrol nafsu kemurkaannya tidak terkendali sehingga orang akan berperilaku sekehendaknya sendiri tanpa memperdulikan lingkungan dan penderitaan orang lain. Dampaknya dapat menghancurkan sikap toleransi dan solidaritas sesama umat Muslim.
Nabi Saw bersabda “Barangsiapa tidak merasa terlibat dgn permasalahan umat Islam dia bukanlah dari golonganku.” Ini jelas memperingatkan permasalahan umat Muhammad yg tumbuh di dunia bukan hanya ibadah shalat dan puasa saja juga luluh ke dalam nasib penderitaan sesama umat. Konteksnya dengan puasa Ramadan Nabi SAW menegaskan “begitu banyak orang berpuasa tapi yg dihasilkannya hanya rasa lapar dan haus semata-mata.” Sabda ini mengandung arti hikmah puasa Ramadhan bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus menahan nafsu dan keinginan hedonistis melainkan secara esensial mengandung makna penghayatan rohani ummat yg dalam yakni ekspresi jiwa dan konsentrasi mental secara utuh dan solid di mana sendi-sendi mental dan jiwa terperas ke dalam fitrah diri meluruskan disiplin pribadi dgn baik.
Semua rangkuman di atas merupakan intisari dari firman Allah SWT “Hai orang-orang yg beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kami agar kamu bertaqwa.” . Di sinilah kekuatan iman dan taqwa seorang Muslim diuji. Sehingga jelas nilai takwa seorang Muslim terangkat pada derajat hidup manusia ke dalam orientasi kehidupan duniawi sekaligus memperoleh justifikasi etis keakhiratan.
Allah SWT berfirman “Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagian negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan dunia.” . Dari sana pula pendekatan yg fleksibel sesama ummat dijalin dengan batas pengertian tertentu yakni berpegang pada pokok akidah yg kita yakini sehingga upaya mengangkat kemiskinan terwujud dgn semangat kebersamaan dan solidaritas yg tinggi dalam implementasi wadah puasa Ramadhan yg penuh rahmat ampunan dan barakah.
. Read More..
 

  © 2009 CAY FELIX